Rosmansyah: Pemimpin Harus “Bersahabat” Dengan Rakyat

Setiap orang yang dimintakan untuk menjadi pemimpin, tentu di dalam nurani nya tersimpan sebuah cita-cita mulia. Pemimpin, pasti berkeinginan agar masyarakat yang dipimpin nya mampu hidup lebih baik dan sejahtera. Pemimpin selalu berjuang keras agar dalam tempo yang sesingkat-singkat nya mampu meningkatkan harkat dan martabat rakyat yang dipimpin nya.

Bahkan seorang pemimpin pun selalu menyiapkan diri agar senantiasa membangun “persahabatan abadi” dengan seluruh masyarakat nya. Atau dapat juga dikatakan, “bersahabat dengan rakyat” adalah salah satu tugas penting yang harus dijalani selain melaksanakan tugas pokok dan fungsi nya. Suatu kekeliruan yang cukup fatal, jika ada sosok pemimpin yang menciptakan jarak dengan rakyat yang dipimpin nya.

Apalagi jika dibarengi dengan sikap dan tindakan yang arogan. Pemimpin yang amanah, tentu akan mengutamakan “silaturahmi” dengan rakyat yang dipimpin nya. Diri nya sadar benar dengan keberadaan rakyat dalam sistem demokrasi yang kita anut di negeri ini. Tanpa peran-serta rakyat, mana mungkin akan ada pemimpin. Jika rakyat tidak menggunakan hak pilih nya, mana mungkin diri nya bakal terpilih jadi pemimpin. Itu sebab nya, seorang pemimpin mesti selalu menghayati makna kalimat “tahta untuik rakyat.

Sesungguh nya banyak cara dan model yang dapat digarap sang pemimpin dalam rangka mengejawantahkan semangat “bersahabat dengan rakyat”. Dengan berkembang nya teknologi informasi, sebenar nya diantara sesama anak bangsa, sudah tidak tirai untuk menjalin komunikasi. Semua serba transparan. Apa yang terjadi di belahan Amerika atau Eropa, dalam hitungan detik kita sudah dapat menyaksikan dan mengenali kejadian nya. Begitu pula sebalik nya, apa yang terjadi di Indonesia saat ini, maka dalam ukuran detik, seluruh warga dunia pun bakalan mengetahui nya pula.

Kemajuan teknologi informasi memungkinkan setiap warga dunia untuk saling berkomunikasi, bertegur-sapa dan bersahabat. Mengacu pada fenomena yang demikian, seorang pemimpin, harus nya tetap menjalin persahabatan yang maksimal dengan rakyat nya. Cukup dengan memanfaatkan kehadiran dan keberadaan internet, seorang pemimpin dapat saja membuka akun facebook atau tweeter untuk membangun komunikasi dengan rakyat nya. Dengan bantuan teknologi informasi, maka semua nya menjadi mungkin. Tidak ada lagi yang tidak mungkin. Sekat-sekat menjadi terbuka. Tirai-tirai tersibakan. Bahkan hanya dengan melakukan satu “klikan” saja, maka kita sudah mampu menyampaikan beribu pesan dan informasi yang ingin disampaikan.

Bukan hanya pemimpin yang butuh pengakuan, namun dalam dunia yang semakin terbuka seperti saat ini, ternyata rakyat pun butuh penghormatan dari para pemimpin nya. Rakyat mencintai pemimpin nya dan pemimpin harus menyayangi rakyat nya. Hubungan semacam ini, tetap harus terajut. Komunikasi mesti terus berlangsung. Pemimpin dan yang dipimpin adalah satu. Komitmen yang dibangun nya jelas, yakni bagaimana melahirkan kehidupan yang lebih bermakna bagi kehidupan ummat manusia. Tugas, kewenangan dan tanggungjawab nya terukur, sehingga tidak ada lagi yang nama nya kongkalikong. Tidak ada lagi dusta antara pemimpin dengan rakyat nya.

Dalam benak Rosmansyah, STP, Ketua DPC PDI Perjjuangan Kabupaten Asahan, sejati nya “persahabatan” pemimpin dengan rakyat yang dipimpin nya, adalah bila terjelma sebuah hubungan yang harmonis diantara ke dua nya. Masing-masing pihak memahami hak dan kewajiban nya. Masing-masing menyadari keterbatasan dan kelebihan nya. Malah mereka pun senantiasa akan menjaga sekaligus memelihara etik dan moral pribadi masing-masing. Harapan kita, mudah-mudahan ke depan kita benar-benar akan menemukan sosok pemimpin yang secara ikhlas mau menjalin persahabatan dengan rakyat nya.