Minum Kopi, Seberapa Boleh Anak Dianjurkan..!

Kopi dulu dianggap sebagai minuman orang dewasa. Anak-anak tidak dianjurkan minum kopi, tanpa alasan yang jelas. Bahkan muncul anggapan anak dilarang minum kopi karena nanti jadi bodoh. Tentu suatu cara didik yang tidak sehat. Apakah betul anak tidak dianjurkan minum kopi? Mari kita bahas di bawah ini.

Seperti halnya teh dan cola, kopi juga mengandung bahan xanthin alkaloida. Bahan yang merupakan bagian dari kafein dan bersifat mengaktifkan atau stimulansia psikis (psychoactive), dalam hal ini terhadap sistem saraf pusat atau otak.

Mengkonsumsi kopi membuat kita lebih siap-siaga atau waspada (alert) dan bisa mengatasi rasa kantuk. Itu sebabnya zat berkhasiat dalam kopi dimanfaatkan aneka jenis minuman “smart drink” atau “energy drink”. Walau demikian kopi tergolong barang legal untuk dikonsumsi. Badan Obat dan Makanan Amerika (FDA) menggolongkan kopi sebagai minuman aman (safe food substance).

Selain sebagai stimulansia terhadap otak, zat berkhasiat dalam kopi juga bersifat meluruhkan cairan tubuh atau diuretic. Sehabis minum kopi, kencing lebih banyak keluar. Lain dari itu, kopi juga meningkatkan endurance pada takaran tertentu.

Takaran individual

Takaran kopi yang sama tidak memberikan efek yang sama pada setiap orang. Ada orang yang amat sensitif terhadap kopi, sama halnya terhadap minuman teh. Minum sedikit teh mungkin sudah tidak bisa tidur. Namun sebaliknya, ada juga orang yang banyak minum kopi dalam sehari, tetap saja gampang tertidur.

Minum kopi menimbulkan efek langsung sebelum satu jam. Pada yang senstitif mungkin mendebarkan jantung, walau tidak demikian bagi yang bisa menerima. Rasa segar, rasa cemerlang, rasa terang benderang bisa diberikan oleh secangkir kopi. Dan menjadi mengantuk, lesu, dan lemah bila belum atau terlambat minum kopi.

Karena ada tuntutan badan untuk minta minum kopi lagi, maka minum kopi juga tergolong ketagihan. Berbeda dengan ketagihan candu atau zat sejenisnya, orang tidak sampai menderita fisiknya bila berhenti minum kopi.

Efek lepas kopi (withdrawal) bisa terjadi berupa nyeri kepala, gelisah, kehilangan konsentrasi, mengantuk, susah tidur, gangguan lambung dan persendian bila dalam 12-24 jam tidak minum kopi. Puncak gangguan terjadi bila tidak minum kopi selama 48 jam.

Namun sifat kopi mudah ditoleransi. Takaran yang sama untuk waktu yang lama memberikan efek yang lebih kecil dibanding sebelumnya. Itu makanya bagi yang sudah menyandu kopi, terus menerus menambah takaran minum kopinya. Secangkir kopi lama-lama menjadi tak cukup lagi. Makin sering dan lama minum kopi, makin naik toleransi terhadap kopi.

Minum Kopi di Cafe Calisto

Efek peredam mengantuk kopi tercapai pada takaran 400 miligram kafein. Secangkir kopi memberikan sekitar 300-400 miligram kafein. Namun di sisi lain, kopi bisa menaikkan tekanan darah dan berpengaruh terhadap pembuluh darah otak.

Sama efeknya pada anak

Efek kopi pada anak sama saja dengan yang terjadi pada orang dewasa. Tidak ada yang salah dengan kopi sebetulnya. Namun sebagaimana zat-zat stimulansia terhadap otak, kalau tidak mau menimbulkan ketagihan, sebaiknya tidak dimulai minum kopi. Begitu kopi sudah menyandu, maka keluhan tidak nyaman akan muncul bila minum kopi dihentikan.

Tanpa sadar anak-anak terpengaruh oleh zat yang sama dengan yang dikandung kopi, seperti teh dan cola. Lain dari itu begitu banyak merk minuman yang dijajakan di sekolah, apakah yang tergolong “energy drink” atau “smart drink”, yang punya pengaruh yang sama dengan kopi juga.

Dalam dunia kedokteran, kafein sering ditambahkan dalam racikan obat atau obat paten karena efek sinergiknya. Misal obat peredam rasa nyeri acap dicampurkan dengan kafein agar memberikan efek yang lebih menguatkan. Termasuk bila dokter memandang perlu memayungi efek mengantuk suatu obat dengan memberikan sedikit kafein.

Efek tidak menyehatkan dari minuman sejenis kopi (adverse effect) adalah bahwa minum kopi untuk waktu lama pada anak bisa menimbulkan keadaan hiperaktif (hyperactivity) akibat pengaruh kafein.

Disebut-sebut bahwa kopi dipakai juga untuk anak dengan kondisi ADHD, yang cenderung kehilangan kemampuan berkonsentrasi dan sangat aktif. Padahal kopi (kafein) bukan obat untuk kondisi itu.

Jadi kopi sebetulnya tidak membuat anak menjadi bodoh atau membahayakan kesehatannya, maupun membuatnya lebih cerdas. Membiasakan anak minum kopi akan menimbulkan akibat buruk yang sama seperti yang dialami orangtuanya yang peminum kopiótidak kurang tidak lebih.

Tentu di balik zat berkhasiat dalam kopi juga terkandung manfaat selain yang sudah disebut di atas. Di antaranya minum kopi belakangan terungkap membantu mencegah kanker kandung kemih juga. Terserah masing-masing keputusan keluarga, apakah membiarkan anak mulai menyukai minum kopi dengan segala keuntungan sekaligus konsekuensi yang harus ditanggungnya, atau sama sekali tidak memulainya saja.

Sumber : Sahabat Nestle

#JanganLupaSenyumHariIni